Note For Myself

Have you ever feel broken but seems free? I do know that I’m not mentally stable for this exact moment. And I’m trying to heal my heart while finding myself in the process.

This is not easy, at all. Not once or twice, where I suddenly cried. Not once or twice, when I’m craving for attention. And when I don’t get it, I’ll throw some tantrum to my friends. I know I could be so annoying. Sometimes I ghosting my friends too and made them worried about me. And I’m sorry.

I’m still figure out how to heal myself. How to enjoy myself again, like I used to. I’m trying to do whatever that I want to try. Right know, I’m learning some new languages, since I’ve ever dreamed about being polyglot. Learning to dance properly (finally). Trying to invest again, learning how to do forex. Learn how to praying well, being closer with The Almighty. Learning some soft skill, learning what I want in life.

These things that I’m done and still doing are the way I cope from broken-hearted. And to fulfill myself. This won’t be easy, there’s some moment where I feel worthless, unwanted, desperate, and useless. Where I feel tired doing all that stuff. But that’s okay, it’s okay to feel down and I know that I’ll be okay. Although not now, someday I’ll.

All I need to do is trying. You’re doing well fem. Just hang on.

Mandiri

Aku tidak menyukai diriku yang mandiri. Yang bisa melakukan semua hal sendiri. Termasuk merawat diri sendiri ketika sakit.

Jauh dari rumah mengajarkan aku banyak hal. Hal-hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikirkan olehku. Aku memang diajarkan untuk melakukan segalanya sendiri sedari dulu. Mamaku selalu berkata, “kamu anak tunggal, gak ada yang bisa diharapkan selain dirimu sendiri”.

Tapi terkadang aku lelah menjadi mandiri. Aku berharap memiliki orang yang bisa kuandalkan. Atau sekedar bersandar sebentar. Sebentar saja istirahat menjadi diriku. Sebentar saja.

Aku sudah pernah masuk rumah sakit sendiri. Jalan sendirian. Nonton, makan, bahkan karoke sendiri. Dan saat ini aku merasakan sakit lagi, sendiri. Ingin sekali rasanya aku ditemani, atau diperhatikan sedikit.

Aku bisa dengan mudah bilang suka, kangen, atau ngambek. Tapi untuk hal yang tidak menyenangkan? Tunggu dulu. Aku takkan berkata, “aku lelah, aku capek, aku sakit, aku setres, aku sedih”. Hal-hal itu pasti akan kupendam sendiri.

Awalnya kukira biasa aja untuk memendam sendiri. Tapi ketika jauh dari rumah, memendam sendiri berasa begitu menyedihkan. Aku benar-benar tidak tau harus kemana.

Tapi kembali lagi, karena aku mandiri. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Seperti hari ini, aku ke rumah sakit sendiri. Tanda tangan berkas sendiri. Mendaftarkan diriku sendiri.

Sungguh aku lelah. Bolehkan aku berhenti sebentar untuk jadi mandiri?

Tak Pernah Cukup

Aku bingung memulainya darimana. Terlalu banyak, terlalu banyak kekuranganku yang tak bisa kututupi dengan kelebihanku. Aku tak cantik seperti wanitamu yang itu, tak cukup cantik untuk membuatmu mau berjalan bersisian denganku, tak cukup cantik untuk kau kenalkan dengan temanmu, tak cukup cantik untuk membuatmu memilikiku.

Aku juga tak cukup pintar untuk memjawab semua pertanyaanmu, tak cukup pintar untuk mengajarimu arti hidup, tak cukup pintar untuk mengesankan orang tuamu, tak cukup pintar untuk kau ajak berdiskusi denganmu. Aku tak memiliki kemampuan diatas rata-rata. Aku juga tak tinggi semampai, berkulit putih, berwajah cantik. Aku tak memiliki harta yang berlimpah untuk bisa memberikan apapun yang kau mau.

Aku tak punya apa-apa. Aku hanya seorang wanita biasa, dengan masalah diatas rata-rata. Tapi kau tak memerlukan itu. Lantas aku mencari bagaimana kau bisa memerlukan aku. Ah, aku ingat satu kelebihanku. Aku pendengar yang baik. Lantas aku mendengarkan ceritamu. Kemudian kau bercerita tentang wanita-wanitamu padaku. Entah aku harus merasa senang atau sedih. Senang karena kau hanya berbagi cerita denganku, sedih karena aku tak mendapat perlakuan yang sama darimu.

Aku tersembunyi, tersisih, tak dikenal dan istilah-istilah lain yang cukup menyakitkan. Tapi tetap saja, disinilah aku. Mendengarkan semua ceritamu sembari menahan pilu. Memang benar apa kata orang, “wanita menjadi buta ketika jatuh cinta”. Aku menjadi buta, meyerahkan apa saja tanpa tersisa. Membiarkan kau bermain dengan semua yang ada. Tapi aku lupa, setulus apapun, sesayang apapun aku padamu, itu semua takkan pernah cukup.

-Pendengar setiamu-

Feels

For the first time since I lived far from my hometown, I feel so lonely. Everything that I want is going home. I feel so tired and suffocated.

It’s so easy for my tears to come out without any warnings. That’s why I don’t want to stay at my room. If I going out, it feels better. But when I come home, the feeling comeback.

All I want right now is a big hug. A warm big hug. But it so hard to find. Believe me, that comfort that I’ve been looking for. I don’t get it. Sometimes I hate myself for craving physical touch.

I want to holding hands, embraced, and the most of all hugs. I wish I could. That person could be my mom, my best friends from my hometown, my boyfriend, or just someone that make me comfortable.

It’s begin to hard to handle. And I’m become crybaby. Someone please hug me tight. I’m going to crumble.

He Still My Bestie

How it feels like when someone you cared about who never get in touch for years reach you? And said he needs you?

He was my bestie since childhood. One of the best that I ever had, but I lost him because misunderstood. I thought he never care about me, but lately I find out that he breakup with his girlfriend that day because of me.

I never liked his girlfriend back then. She and her gang bullied me in high school, simply because one of their friends saw me with my bestie. And saw the way I teased him. My bestie belly is so big and I loved to slap it. Just like the way he keep poke me cause I’m ticklish.

Ever since that day, my life in high school feels like nightmare. No one wants to be my friend. Because when they saw me, they will yelled at me said “cewe gatel, jangan temenan sama cewe gatel”. I always cried whenever get home. It happened for a month.

Unfortunately, I get lost contact with my bestie. I thought he was choose her instead me, his bestfriend. We barely spoke, even when we met. I was too afraid to call ahead of time. Cause I knew he still with her.

Years later, I heard they was going to married. To be honest, I feel sorry for him. He could have someone better, but who knows about destiny. 2 weeks before married, he come to my house. We talked for hours.

He apologized about what I’ve been through and I forgave him. But still, I won’t forgive her. We shared a lot of stories. I realized that I missed him so bad and he said that he missed bullying me. What a good friend huh?

But that was the last time we talked. Sometimes we chat, but never really talked about our life. I knew that he have son but that’s all. And suddenly he reached me, sayin he needs me. I know something was wrong about him. I knew him well enough.

He’s not kind of person who will open about themselves. But when he get burnout, he will come to me. Too bad I can’t be near him. He said that he needed physical support and to be heard. And not to get judged. He knew I’ll all he wanted. I’m hoping that he’ll be fine.

New Friend

I don’t know how to describe my feelings towards him. It’s been a week since the first time I met him. And it kinda scary cause he knows too much. Like really too much.

He knew my flaws, my pasts, and I really don’t know how he made me do that. Whether he’s so damn good psychologist or maybe I really get this chemistry with him. It was so easy to reveal myself. I don’t need to cover anything.

At first, I was thinking so this is how it feels like to have therapist. I don’t need to worry about about judgmental or whatsoever. Even I tell him about my dark secrets at the first meeting.

Suddenly, I feel the urge to be his best friend. Seriously. I’ve met him 3 times this week and he knew almost all my stories. I never feel this way about a person. Never.

I know that I easily fall with person but this guy hits differently. Like he’s to good to be true. He’s so damn smart, funny, likes to eat, like to go around, so polite, little bit weird, and he can be dirty mind too. You can talk all day with him and never get bored.

But since he’s a psychologist, I set my expectations as low as possible. This person is someone I would never ever lose, no matter what. I know he’s out of my league but being his friends is something that I will always cherish.

Nice to meet you, K.

Jomblo LDR

Tema hari ini mengenai sendiri dan bahagia. Aku memiliki pacar di kampung halamanku. Tapi semenjak aku menempuh pendidikan S2 kami terpisah jarak. Kata teman-temanku, statusku adalah jomblo ldr.

LDR atau Long Distance Relationship itu sungguhlah menguji iman. Berat sekali. Aku yang biasa kalau ada apa-apa menghubungi pacarku jadi lebih banyak mengandalkan diri sendiri. Menjadi “single” sementara.

Apakah aku senang? Yah lumayan sih. Kembali menjadi diriku yang apa-apa sendiri. Kembali mengandalkan diri sendiri. Kemana-mana sendiri, bisa jalan dengan teman terus. Cuma tetap saja rasanya ada yang kosong.

Sulit sekali menerima kenyataan bahwa dia jauh. Sulit sekali untuk tidak meminta dia datang ke hadapanku. Ketika aku sedang lelah, hal yang kuinginkan hanyalah pelukan dia. Yang sayangnya hanya bisa dikirimkan video pelukan virtual.

Sudah hampir setahun aku menjadi kehidupan jomblo LDR. Sudah mulai terbiasa walau rasa kosong itu tetap ada. Aku belajar bahagia sendiri. Belajar bahwa pasangan itu sebagai pelengkap, bukan alasan untuk bahagia. Aku belajar bahwa bahagia dimulai dari diri sendiri.

Dengan atau tanpa pasangan kita tetap harus bahagia. Bahagia tidak melulu soal memiliki semua, mencukupkan diri dengan diri sendiri juga harusnya bisa bahagia. Karena menurutku, kalau sudah bahagia dengan diri sendiri, harusnya bersama orang lain akan menambah kebahagiaan.

Mamaku

Karena keadaan lagi sibuk, maka aku tak sempat menyetorkan tulisanku kemarin. Padahal aku menyukai tema tulisan itu. Tema tulisan untuk hari kelima adalah orang tua.

Aku ingin menceritakan mengenai mamaku. Mamaku adalah perempuan yang hebat. Dia sangat sayang padaku dan pendukung terbesarku. Mamaku sangat percaya aku akan menjadi orang sukses. Walaupun aku sendiri masih belum mengerti definisi sukses apa yang dia inginkan.

Mamaku membebaskanku untuk melakukan apapun yang kumau. Apapun. Aku mau nonton konser? Boleh. Aku mau travelling? Boleh. Aku mau kuliah di luar kampung halaman? Boleh. Aku mau pacaran? Boleh. Semua boleh.

Hanya ada 3 syarat yang diberikan mamaku setiap kali aku ingin melakukan sesuatu. Pertama, apa yang aku lakukan tidak mengganggu orang. Kedua, yang aku lakukan tidak melanggar susila/adat. Ketiga, hal yang aku lakukan tidak melanggar pemerintah dan agama. Selama tidak mengganggu syarat tersebut maka aku bebas melakukan apa saja.

Mamaku wanita hebat, karena dia tahan dengan anak yang kelakuannya nyeleh sepertiku. Aku bukanlah anak yang penurut, seringkali aku membangkang dan meninggikan suaraku. Akan tetapi mama selalu memaafkanku, maafkan anakmu ini mah. Mamaku tak pernah marah dengan aku yang sering nyasar, sering jatuh dari motor atau suka ngalor.

Sekarang aku sedang berada jauh dari dirinya, dan jujur saja aku khawatir. Aku takut mama lupa meminum obatnya secara teratur karena aku tak disampingnya. Mamaku juga terlalu baik, kadang dia mengutamakan temannya ketimbang dirinya sendiri, akulah yang biasa menjadi rem untuk dirinya. Walaupun mama bilang sekarang dia lebih menjaga diri karena ingin melihatku wisuda.

Semoga mama selalu sehat dan panjang umur. Aku sayang sekali padamu mah, tetap menjadi orang yang ramah. Tidak seperti anaknya yang jutek ke semua orang.

Vitamin Sea

Ada banyak sekali tempat yang ingin aku kunjungi. Ada Pulau Jeju, Santorini, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Kepulauan Anambas. Aku menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan laut. Jadi semua tempat yang ingin aku kunjungi berhubungan dengan laut.

Yang terdekat dan paling ingin aku kunjungi saat ini adalah Labuan Bajo. Membayangkan tidur di atas kapal. Bangun, tidur dan makan di atas laut. Bisa nyebur ke laut kapan saja. Sungguhlah hanya dengan membayangkan bisa membuatku tersenyum senang.

Labuan Bajo (sumber google)

Untukku Labuan Bajo sungguhlah tujuan yang menarik. Ada laut biru, pasir putih, air yang jernih, pohon kelapa, binatang komodo, wisata karang, danau, wisata ke penduduk asli, lengkaplah semua ada. Bisa menonton matahari tenggelam dan matahari terbit di pinggir pantai itu saja cukup membuatku senang.

Sudah sering sekali aku mengajak teman-temanku untuk datang kesana. Tapi ada berbagai macam alasan, ada yang takut laut, sudah pernah kesana, tidak bisa berenang, takut tidak diberi izin dan berbagai macam alasan. Tapi aku sudah bertekad untuk akan pergi kesana.

Jadi aku berencana untuk mewujudkan setelah selesai sidang tesisku. Ada atau tidak ada teman aku akan tetap pergi. Hanya ada satu hal yang menghalangiku, pandemi corona. Sungguhlah semoga pandemi ini cepat berakhir. Biar bisa liburan dengan tenang.

A memory

Kenangan. Aku punya banyak sekali kenangan. Bahkan beberapa diantaranya sering terjadi deja vu. Kenangan dengan teman, keluarga, pacar, sahabat, bahkan orang asing.

Ada kenangan yang ingin dilupakan tapi tetap diingat. Ada pula kenangan yang mati-matian aku pertahankan tapi tetap terlupakan. Andai saja kita bisa memilih kenangan mana yang kita simpan dan tidak, kuyakin hidup akan lebih mudah.

Aku memiliki kenangan buruk yang selalu menghantui. Kenangan yang sudah lama sekali terjadi tapi masih membekas sampai sekarang. Saking buruknya sampai terbawa mimpi.

Walaupun aku memiliki kenangan buruk, kenangan bahagia pun aku miliki. Tapi entah kenapa tetap saja yang paling membekas itu kenangan buruk. Sungguh, kenangan buruk milikku selalu menghantui dan sulit dilupakan. Sekeras apapun aku mencoba.

Semoga kita bisa mengatasi kenangan buruk, tak mengapa kalau tidak bisa dilupakan. Setidaknya kita bisa berdamai dengan mereka. Adanya kenangan buruk sebagai pengingat, bahwa hal itu telah berlalu.